cerpen- Surat Misterius
SURAT
MISTERIUS
Sakina berjalan
tergopoh-gopoh menuju ruang makan, ia langsung menyeruput teh yang ada
didepannya,dengan mata membulat ia menatap jam di dinding, seketika ia bergegas
keluar melewati ibunya yang duduk di saung depan rumah mungil itu.
“Kin, kamu sudah sarapan?”
Gadis berkacamata itu menoleh
dengan pasti, membalikkan badan berlari menuju perempuan setengah baya
didepannya. Namun ia terlihat didera kelelahan.
“Belum bunda. Nanti saja di
sekolah” Ucapnya seraya mencium tangan ibunya.
“Hati-hati Kin, kalau pulang,
telpon bunda ya. Biar nanti bunda suruh bang Imam jemput kamu”. Sakina
mengangguk mantap. Dipandangnya anak perempuan tersebut semakin jauh melangkah
meninggalkan dirinya.
Ia
berjalan melewati koridor-koridor kelas yang ramai. Banyak anak berlalu lalang
melintasi koridor yang menghubungkan perpustakaan dengan kantin tersebut.
Kelasnya yang berada di dekat taman belakang sekolah membuatnya agak malas
menuruni tangga setiap hari.
“Kin, Sekolah kita akan mengadakan persami
di sekolah. ikut yuk”. Umi yang melihat teman sebangkunya datang langsung
menyampaikan informasi tersebut. “Bagaimana Kin? Kok kamu diam saja?”
“Insyaallah Mi, aku pikir-pikir
lagi ya.” Jawabnya dengan lesu. Sepanjang pelajaran berlangsung Sakina kerap kali
tidak fokus. Ada sesuatu yang dipikirkannya.
Ketika
bel pulang berbunyi, Sakina masih terdiam ditempat duduknya. Ia tidak beranjak
sama sekali. Syifa dan Umi mencoba mendekati Sakina yang nampak berlinang air
mata. Namun, Sakina hanya diam walaupun kedua sahabatnya tersebut berulang kali menanyainya.
***
Motor tua itu
melaju membelah jalanan sore hari. Deru knalpot dan hiruk pikuk kendaraan tak
dihiraukannya. Hatinya masih kecewa. Sesekali ia menyeka air matanya. Lelaki yang
mengendarai motor tua itu hanya bisa melihat dari kaca spion motor yang sudah
usang. Dilihatnya muka gadis berkacamata itu memerah.
“Kin, kamu
kenapa? Cerita dong sama abang”
“Kina baik-baik
aja bang.” Suaranya pelan. Namun terdengar berat dan penuh kegelisahan. Jika
sudah begitu, abang nya tak bisa berkata-kata lagi.
Motor tua itu memasuki pekarangan
rumah kecil yang sederhana. Di pintu depan rumah tersebut sudah berdiri wanita
setengah baya yang siap menyambut anak-anaknya.
“Mam, kenapa
telat? Apa jalanan macet?” Tanya ibu dengan muka penuh keletihan.
“Begini bunda,
tadi Imam sama Kina mampir dulu ke warung pinggir jalan. Kita minum teh disana
sebentar.”
Setelah
menyalami ibunya, Sakina masuk dengan wajah ditutup sapu tangan. Ia tidak ingin
ibunya tahu bahwa ia menangis. Di kamar yang berukuran 3 x 4 itu ia berbaring
menatap langit-langit kamar. Sedetik kemudian ia melepas jilbab untuk mengambil
wudhu dan bersujud kepada Illahi Rabbi. Ia mengambil Al-Qur’an dari meja kayu
yang sudah rapuh di makan rayap. Di lembar
pertama Al-Qur’an tersebut ia menyelipkan foto seseorang yang sudah usang.
Gambar fotonya pun hampir tidak jelas. Sakina menatap sebentar, air matanya meleleh.
Ayah..
Kina ingin melihat Ayah.. Ingin dipeluk Ayah .... Ayah.. Pulanglah.......... Ya
Allah pertemukan aku dengan Ayah ..............
Batin Sakina
menjerit lagi. Perempuan 17 tahun itu telah lama ditinggal pergi oleh ayah. Entahlah, dia tidak pernah
tahu dimana ayah nya berada. Tidak pernah ada surat, ataupun kabar. Terakhir
kali ia mengetahui bahwa ayahnya berada di Batam dan sudah mempunyai keluarga
lagi disana. Matanya sudah basah. Dering handphone di atas kasur membuat ia
terpaksa beranjak dari atas sajadah, ia melihat layar handphone tersebut dengan
heran, nomor itu tak dikenalnya.
“Assalamualaikum. Hallo…” Sapanya dengan
suara gemetar. Namun, seseorang di seberang
sana hanya diam dan telah memutus koneksi telepon.
***
Fadli
memperhatikan Sakina lekat-lekat. Ia memang menyukainya. Namun ia tidak pernah
mengungkapkan hal tersebut demi menghargai persahabatan di antara mereka. Bergabung
dalam satu organisasi membuat mereka dekat. Namun hal itu disalah artikan oleh
nya.
“Kin, kamu tidur
di tenda mana?” Suara nya terdengar berusaha menutupi rasa canggungnya.
“Aku satu tenda
sama Umi. Kenapa Fad?”
“Aku kira kamu
di tenda 1 sama Annisa” Ucapnya seraya melempar pandangan ke langit.
Mendengar nama
itu, Sakina jadi tertegun.
Apa
Fadli masih menyukai Annisa? Apa semua perkataan Umi bohong? Umi salah. Fadli
menyukai Annisa, bukan Sakina.
“Kina.. Kamu
baik-baik saja kan?”
Yang ditanya hanya
menunduk. Mengangguk pelan sambil tersenyum yang sulit diartikan.
Sementara itu dari semak-semak belukar
ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua. Tatapannya sinis. Tangan mengepal dan seketika dihujamkannya pada
sebatang pohon.
***
Menjelang petang,
suasana di perkemahan mulai ramai. Anak-anak mulai mempersiapkan kayu bakar
untuk dijadikan api unggun. Ada pula yang sibuk mencari-cari gitar untuk pentas
nanti malam, sedangkan di salah satu tenda, seorang gadis sibuk mengeluarkan
barang dari tas ranselnya. Tiba-tiba ia meraba sesuatu. Sepucuk surat! Awalnya
ia mengira itu adalah berkas-berkas acara Persami dari Umar. Tetapi setelah
dibuka, isinya sangat mengejutkan.
Hai
Sakina..
Maaf
sebelumnya, mungkin aku lancang. Tapi aku ingin mengungkapkan bahwa aku
menyukaimu.. Jauh lebih dulu sebelum kau berumur 17 tahun.
Tidak ada
tulisan apapun selain tulisan tersebut. Tidak ada nama pengirim dan ia
memperhatikan dengan seksama tulisan tersebut.
Ah,
sepertinya surat ini dikirim oleh seseorang yang sangat rapih. Dari cara
tulisannya, di kertasnya pun tidak ada noda tinta berceceran sana sini. Siapa
gerangan?.
Adzan magrib berkumandang. Semua
anak bergegas keluar tenda untuk mengambil air wudhu dan shalat berjamaah.
Sakina mengenakan mukena yang dijahit oleh ibunya. Apapun yang dipakai Sakina,
Fadli selalu suka. Lagi-lagi lelaki itu menatap Sakina penuh harap.
Tepat
pukul 21.00 acara api unggun dimulai. Anak-anak yang duduk melingkar
berdesak-desakan satu sama lain. Tidak perduli oleh kondisi itu, mereka hanyut
terbawa suasana di bawah langit malam. Sekitar setengah jam berlalu, kini
saatnya menampilkan pertunjukan dari masing-masing kelompok. Fadli menampilkan
pertunjukan dengan memainkan gitar dan bernyanyi. Suaranya merdu, membuat
siapapun yang mendengarnya jatuh hati. Ya. Fadli dikategorikan sebagai lelaki
idaman. Selain fisiknya yang mendapat acungan jempol, otaknya pun juara.
Sementara
itu akhir dari pementasan tersebut diisi oleh Rafi. Ia kurang disukai oleh
temannya. Ia terkesan aneh, brutal, dan penutup.Wajahnya mengingatkan Sakina
akan seseorang. Setiap Rafi berpapasan dengannya, Rafi tak pernah mau melihat.
Ia selalu buang
muka. Sakina menyebutnya mahluk sombong
yang aneh. Dengan gaya yang acak-acakan dan karakteristiknya dia enjoy membawakan
lagu-lagu rock yang ia suka. Lalu penampilan terakhir ditutup oleh drama dari
Umi, Syifa, Aisya dan Sakina. Malam itu sungguh menyenangkan. Namun, dimalam itu juga semuanya berawal.
***
Sepanjang malam itu Sakina tak bisa
tidur. Hawa panas membuat kulit nya memerah dan gatal. Ia memutuskan untuk
keluar tenda. Disana masih terlihat beberapa anak yang sedang asik memainkan
gitar. Angin yang bertiup kencang memainkan jilbab panjangnya. Fadli
mengamatinya dari jauh. Hati nya terus bergetar menatap gadis itu. Hingga jam 2
malam, Sakina tidak dapat tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke mushola
di dekat ujung koridor kelasnya. Lorong-lorong dilaluinya sendiri.
Sementara suasana sudah mulai sepi. Anak-anak
masuk ke tenda untuk beristirahat.
Jilbabnya dilipat rapih di atas meja penyimpanan Al-Qur’an di musholah. Ia melakukan
shalat malam sendirian dengan berurai air mata. Udara dingin tak mampu
mengusiknya. Hujan deras, Petir bersahut-sahutan. Namun, ia tetap tidak
bergeming. Tangisan makin menjadi-jadi. Ia tidak beranjak sampai shalat subuh
tiba. Hujan mulai reda dan ia memutuskan untuk kembali ke tenda.
Sakina
mengamati keluar mushola. Sisa-sisa air hujan menggenang di halaman musolah.
Sandalnya hampir hanyut terbawa arus ke selokan. Untung tertahan oleh ranting-ranting pohon yang
jatuh berserakan. Ketika ia kembali untuk mengambil jilbab, ia baru menyadari
ada noda merah di pintu depan mushola. Awalnya ia hiraukan. Tapi setelah ia
mendekati noda merah tersebut ialah bercak darah.
Sejak
kapan bercak darah ini ada? Sepertinya ketika tadi aku masuk ke mushola, aku
tidak melihatnya. Apa aku yang memang tidak melihat?Atau memang noda ini belum
ada? lantas bercak darah siapa ini? Siapa yang tadi kesini?
Segelintir
pertanyaan muncul dalam benaknya. Ia memutar keras otaknya. Ia merasa tidak ada
seorang pun yang datang ke mushola ini kecuali dirinya. Karna dirasa belum mampu memecahkan pertanyaan yang mengganjal itu, ia
lekas mengambil jilbabnya.
***
Sosok itu berjalan tergesa-gesa
melewati lorong-lorong berair. Tak perduli roknya basah terkena percikan air
hujan.
“Kin, kamu kenapa? Rok kamu basah.
Jilbabmu juga kusut berantakan. Kamu habis dari mana sih? Kita khawatir sama
kamu..”
Tidak ada kata-kata yang keluar
dari mulutnya. Tapi sorot mata yang tajam seolah-olah mampu menjawab semuanya.
Sepuluh menit kemudian ia mulai berbicara. Terlebih dulu ia mengambil napas
panjang. Ia menceritakan dari awal. Ia menceritakan sesuatu yang membuat seisi
tenda menjadi kaku.
“Aku juga bingung Mi, seharusnya ada noda
kotor kaki seseorang di mushola jika memang ada yang datang ke sana. Tapi
lantainya bersih sekli. Bercak darah itu
baru kutemukan ketika sudah selesai shalat subuh.” Ia menghela napas lagi.
“Kemungkinan orang itu datang secara diam-diam dan berusaha untuk tidak
meninggalkan jejak.”
“Lalu, surat itu ditemukan dimana?”
“Dilipatan terbawah jilbabku. Ia
menyelipkan nya. Entah apa maksudnya yang jelas aku ingin tahu siapa orang
ini.”
Sakina
membuka sekali lagi surat itu. Membacanya dengan baik-baik. Tulisan sama dengan surat yang pernah ia temukan
diranselnya.
Untuk
Sakina..
Seharusnya
aku tak pernah ada. Seharusnya perasaan ini juga tak akan pernah ada.
Seharusnya aku tak disini.
Maaf
selama ini aku menyukaimu. Maaf karna tanpa setahu mu, aku hadir di dunia ini
dari seseorang yang kau sayang. Yang dulu meninggalkan mu, dan sekarang
meninggalkan ku. Sedari dulu aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Aku hanya
takut, kau tak terima.
Salam
hangat untukmu wahai gadis berjilbab
Ia menggeleng-gelengkan kepala.
Sungguh tidak mengerti apa maksud dari surat itu. Tanpa ia sadari Fadli
menatapnya lekat-lekat. Sebelum Sakina melihatnya, ia sudah meninggalkannya.
“Hei Fad…” sapa Sakina.
Tak ada jawaban dari lelaki itu. Ia
tetap berjalan menjauh dari Sakina. Ia tetap masuk ke tenda tanpa
menghiraukannya.
Apa Fadli…? Tapi apa maksudnya Fad…?
***
Hari terakhir Persami membuatnya
sibuk membereskan barang-barang bawaan. Kedua sahabatnya Syifa dan Umi sibuk
membersihkan lingkungan sekitar tenda mereka. Terpaksa ia harus membereskan
perlengkapan sendirian.
“Kin.. Aku…”
“Ah Fad.. Ada apa?” Sakina
terperanjat. Suara itu mengagetkannya.
“Ah lupakan.... Nanti saja”
Lagi lagi Sakina dibuatnya bingung.
Kemudian
ia keluar tenda dengan penuh barang bawaan. Tidak sengaja seseorang menabraknya dari samping. Semua barang bawaannya jatuh.
Ia pun terjatuh. Namun, orang yang menabraknya tetap berdiri kokoh. Sakina
mencoba mendongakkan kepala. Jari-jari tangan orang tersebut penuh darah,
seperti terkena benda tajam. Sakina teringat bercak darah di mushola tadi pagi.
Ada sehelai kertas yang jatuh dari tangan sosok
itu. Kertas itu juga berlumuran darah. Karna penasaran,
tanpa meminta izin terlebih dahulu ia mengambil surat itu dan membacanya. Ia
tercengang.. Tulisan yang sama!
“Kamu…. “ Matanya terbelalak tak
percaya. Tulisan tes DNA dan penjelasan yang tertera disurat tersebut
membuatnya tak mampu berbicara. Matanya sudah berkaca-kaca.
Namun
lelaki sombong yang dianggap aneh itu hanya terdiam dan pergi meninggalkannya.
Meninggalkan semua yang ada disana. Jauh entah kemana. Meninggalkan Sakina yang
masih terdiam tak percaya.
Kini
ia tahu siapa sebenarnya Rafi.
Setelah kejadian
dihari terakhir persami itu, Rafi tidak pernah kelihatan lagi. Ia hilang
bagaikan ditelan bumi. Dan semenjak saat itu Sakina, ibu dan abangnya sudah
bisa memaafkan kesalahan ayahnya. Mereka pun kembali menjalani hidup seperti
biasa.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar