Cerita rakyat banten - Pangeran pandegelang dan putri cadasari
DI tengah sebidang kebun manggis, seorang putri yang cantik
jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat
menandakan dia sedang bermuram durja.
Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang
lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat
manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran.
"Sampurasun,"
sapanya.
Sang Putri tak menyahut. Dia benar-benar larut dalam
kesedihannya, sehingga tidak menyadari kehadiran lelaki itu.
"Sampurasun,"
Lelaki itu mengulang sapa.
"Ra...
rampes," Sang Putri terkejut. "Si... siapa?"
"Maaf jika saya
telah mengejutkan Tuan Putri," kata lelaki itu seraya menundukkan
kepalanya.
Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan penuh
seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Wajah lelaki itu tidaklah tampan,
kulitnya pun legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik.
Seumpama buah manggis: hitam dan pahit kulitnya, tapi putih dan manis buahnya.
"Sedari tadi tadi
saya perhatikan, Tuan Putri tampak gundah gulana. Ada apa gerangan?"
"Saya kira tak
ada guna menceritakan masalah yang saya hadapi kepada orang lain."
"Kalau begitu,
maafkan saya telah mengganggu Tuan Putri. Saya berharap Tuan Putri berkenan
melupakan pertanyaan saya tadi," ujar lelaki itu seraya hendak berlalu.
"Tunggu, Kisanak.
Jangan pergi dulu!" Sang Putri mencegah.
Lelaki itu
mengurungkan niatnya. Sejenak dia melirik sang Putri.
"Sekali lagi
maafkan saya," pinta sang Putri. "Bukan maksud saya menyinggung
perasaan Kisanak, apalagi menganggap rendah."
Beberapa saat sang Putri terdiam. Kemudian tiba-tiba saja matanya
membasah. Sang Putri menangis.
Lelaki itu duduk di dekat sang Putri. Hatinya diliputi
keingintahuan yang besar tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa nama
Kisanak?" tanya sang Putri.
"Saya... saya
pembuat gelang. Pande gelang. Orang-orang sering memanggil saya dengan sebutan
Ki Pande."
"Baiklah, Ki
Pande. Saya akan bercenta, mudah-mudahan cerita saya akan menghilangkan
penasaran Ki Pande. Selama ini saya tidak pernah menceritakan masalah ini
kepada orang lain karena saya merasa hanya akan sia-sia belaka. Tidak akan ada
seorang pun yang bisa membantu saya," jelas sang Putri dengan mata
berkaca-kaca.
"Tapi mengapa
Tuan Putri mau menceritakannya kepada saya?"
"Saya hanya ingin
menghilangkan penasaran Ki Pande,"
Ki Pande tidak
berkata-kata lagi. Dia hanya menundukkan kepala dengan hati dipenuhi rasa iba.
"Nama saya Putri
Arum ...." sang Putri memulai centanya.
Menurut Putri Arum, dirinya sedang mendapat tekanan dari seorang
pangeran bernama Pangeran Cunihin. Meskipun tampan, Pangeran Cunihin sangatlah
bengis dan kejam. Selain itu, Pangeran Cunihin pun sangat berkuasa dan sakti
mandraguna. Apa pun yang diinginkannya harus terpenuhi. Semua titah tak bisa
berbantah.
"Saya sangat
sedih, Ki, karena dia akan menjadikan saya sebagai istrinya," Putri Arum
mengakhiri ceritanya.
"Saya ikut
bersedih," Ki Pande tak kuasa menahan airmata. "Maafkan saya, karena
tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu Putri."
"Saya mengerti,
Ki. Tidak ada seorang pun yang bisa mengakhiri angkara Pangeran Cunihin,"
ujar Putri Arum lirih. "Tadinya saya mengira wangsit yang saya terima
benar adanya."
"Wangsit?"
tanya Ki Pande.
"Ya. Menurut
wangsit, saya harus menenangkan diri di bukit manggis ini. Kelak katanya akan
ada seorang pangeran yang baik hati, manis budi pekertinya, dan sakti
mandraguna, yang datang menolong saya. Namun penantian ini hampir sia-sia. Tiga
hari lagi Pangeran Cunihin akan datang dan memaksa saya kawin dengannya.
Barangkali ini sudah suratan takdir saya, Ki, sebab setelah sekian lama, dewa
penolong yang hatinya seputih dan semanis buah manggis itu ternyata tak kunjung
tiba," tutur Putri Arum menghiba.
Mendengar hal tersebut, KI Pande mengenyitkan dahi, seolah ada
yang tengah dipikirkannya.
"Oh, tadi Aki
mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membantu saya?"
tanya Putri Arum, teringat kata-kata Ki Pande.
"Benar,"
jawab Ki Pande.
"Itu berarti,
meskipun sedikit ada yang bisa Aki lakukan untuk saya!" seru Putri Arum,
penuh harap.
"Barangkali itu
tidaklah berarti," kata Ki Pande.
"Katakan saja, Ki,"
Putri Arum penasaran.
"Saya hanya ingin
menyumbang saran. Terima saja keinginan Pangeran Cunihin itu."
"Apa Aki sudah
gila? Bagaimana saya mau dipersunting lelaki yang sangat saya benci?"
sergah Putri Arum dengan wajah memerah.
Ki Pande sangat terkejut dengan perubahan itu, tapi dia berusaha
tetap tenang. "Maksud saya, terima saja keinginan dia tapi dengan
syarat."
"Dengan
syarat?" tanya Putri Arum setengah bergumam.
"Ya, dengan
syarat yang sangat susah dipenuhi."
"Hal apa yang
tidak bisa dilakukan Pangeran Cunihin? Dia sangat sakti mandraguna. Laut saja
bisa dikeringkannya!"
"Yakinlah, Tuan
Putri. Tidak semua orang akan jaya selamanya," Ki Pande berusaha
meyakinkan Putri Arum.
"Kalau begitu,
apa syarat yang Aki maksudkan?"
"Pangeran Cunihin
harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu
tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak
lebih dan tiga hari," Ki Pande menjelaskan.
"Bukankah syarat
itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?"
"Tapi tidak semua
orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari
kemampuan orang tersebut akan hilang."
"Setelah
itu"" tanya Putri Arum.
"Serahkan
semuanya kepada saya!"
Mendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui.
Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa
karung yang berisi alat-alat membuat gelang.
Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan
Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, mereka belum juga sampai.
Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas. Orang-orang kampung
membantu Ki Pande rnembawa Putn Arum ke rumah salah seorang penduduk dan
merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang tetua kampung mengatakan
bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui
batu cadas.
Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber mata air batu
cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air
yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum
dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.
Sementara itu, Ki
Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar,
yang bisa dilalui manusia. Menurut Ki Pande, gelang tersebut akan dipasang pada
lingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin.
Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang
menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasan pun mengajukan syarat
kepada Pangeran Cunihin.
"Hahaha, itu
syarat yang sangat gampang, Tuan Putri. Tapi apa maksud dari syarat itu?"
tanya Pangeran Cunihin.
Putri Cadasari terkejut mendapat pertanyaan seperti Itu. Tapi
dia segera menyembunyian keterkejutannya. "Saya hanya ingin agar bulan
madu kita tidak terganggu, Pangeran. Duduk di atas batu sambil menikmati
birunya laut, bukankah itu sangat menyenangkan, Pangeran?" jelas Putri
Cadasari.
"Wah, Tuan Putri
memang sangat romantis!" puji Pangeran Cunihin, pula.
Tak sampai tiga hari dan tanpa halangan yang berarti, Pangeran
Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu
kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri
Cadasari diam-diam mengkuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka
bersembunyi, menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin.
Pangeran Cunihin tampak duduk bersila di hadapan batu keramat.
Dengan konsentrasi penuh, Pangeran Cunihin menempelkan dua telapak tangannya ke
batu keramat. Tiba-tiba tangan Pangeran Cunihin bergetar. Sesaat kemudian batu
keramat itu pun retak dan berjatuhan. Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat
besar tercipta di tengah batu keramat itu.
"Hahaha, aku
berhasil. Tuan Putri akan segera menjadi milikku!" Pangeran Cunihin
mengangkat kedua tangannya seraya berlari mencari Putri Cadasari.
Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang
besar pada batu keramat yang telah berlubang Itu. Setelah itu dia kembali
hendak bersembunyi, tapi didengarnya sebuah bentakan keras.
"Heh tua bangka,
sedang apa kau di sini?!"
Ternyata Pangeran Cunihin telah berada kembali di situ, bersama
Putri Cadasari.
"0, aku tahu.
Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan
kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi
pecundang! Hahaha!" Pangeran Cunihin tertawa puas. "Lihatlah, sang
Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!"
Putri Cadasari terkejut heran mendengar omongan Pangeran
Cunihin, seolah telah mengenal Ki Pande sebelumnya. Namun belum lagi keheranan
itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk
melihat batu keramat yang telah berlubang itu.
"Tuan putri,
lihatlah! Keinginan Tuan Putri telah terwujud. Sebuah batu besar berlubang di
pesisir pantai. Sungguh sebuah tempat yang indah dan romantis," kata
Pangeran Cunihin.
Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan
kegembiraan, w alau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya
menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.
"Apa karena
terlalu gembira saya seakan tidak bisa melihat bahwa batu ini telah
berlubang?" kata Putri Cadasan.
"Hm, baiklah.
Jika Tuan Putri tidak percaya, saya akan melewati batu ini untuk
membuktikannya," jawab Pangeran Cunihin.
Tanpa berpikir panjang, Pangeran Cunihin kemudian berjalan
melewati lubang batu keramat itu. Tapi tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan
tubuhnya sakit luar biasa. Dia berteriak-teriak sekuat tenaga. Suaranya memecah
angkasa. Lalu seluruh kekuatannya pun menghilang. Dia terduduk lemah, tak kuasa
berdiri. Perlahan, Pangeran Cunihin berubah menjadi seorang tua renta tanpa
daya, seolah telah melewati lorong waktu. Sementara itu, KI Pande pun berubah
menjadi seorang pemuda tampan.
"Bagaimana semua
ini bisa terjadi?" Putri Cadasari tidak mengerti menyaksikan
keanehan-keanehan itu.
"Sebenarnya ini
semua akibat perbuatan Pangeran Cunihin. Dulu kami berteman. Tapi setelah
mendapat kesaktian dari guru, dia mencuri seluruh ilmu dan kesaktian saya, lalu
menjadikan saya sebagai seorang yang sudah tua. Saya kemudian mencari kesaktian
untuk mengembalikan keadaan saya. Ternyata hanya satu yang bisa mengembalikan
keadaan itu, yakni Jika Pangeran Cunihin melewati gelang-gelang buatan
saya," terang Ki Pande seraya menatap ke arah Pangeran Cunihin yang
terkulai tak berdaya.
"Kini saya telah kembali
seperti sedia kala. Ini semua karena jasa Tuan Putri. Untuk itu saya
menghaturkan terima kasih," ujar Pangeran Pande Gelang, menggenggam tangan
Putri Cadasari.
"Ah, sayalah yang
seharusnya berterima kasih, Pangeran. Ternyata wangsit yang saya terima itu
memang benar."
Akhirnya, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu.
Beberapa waktu kemudian mereka pun menikah dan hidup berbahagia sampai akhir
hayatnya.
Tempat mengambil batu
keramat tersebut kemudian dikenal dengan kampung Kramatwatu, dan batu besar
berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan
tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya
dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan
pasir berarti bukit. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai
kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang
membuat gelang.
DI tengah sebidang kebun manggis, seorang putri yang cantik
jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat
menandakan dia sedang bermuram durja.
Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang
lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat
manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran.
"Sampurasun,"
sapanya.
Sang Putri tak menyahut. Dia benar-benar larut dalam
kesedihannya, sehingga tidak menyadari kehadiran lelaki itu.
"Sampurasun,"
Lelaki itu mengulang sapa.
"Ra...
rampes," Sang Putri terkejut. "Si... siapa?"
"Maaf jika saya
telah mengejutkan Tuan Putri," kata lelaki itu seraya menundukkan
kepalanya.
Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan penuh
seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Wajah lelaki itu tidaklah tampan,
kulitnya pun legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik.
Seumpama buah manggis: hitam dan pahit kulitnya, tapi putih dan manis buahnya.
"Sedari tadi tadi
saya perhatikan, Tuan Putri tampak gundah gulana. Ada apa gerangan?"
"Saya kira tak
ada guna menceritakan masalah yang saya hadapi kepada orang lain."
"Kalau begitu,
maafkan saya telah mengganggu Tuan Putri. Saya berharap Tuan Putri berkenan
melupakan pertanyaan saya tadi," ujar lelaki itu seraya hendak berlalu.
"Tunggu, Kisanak.
Jangan pergi dulu!" Sang Putri mencegah.
Lelaki itu
mengurungkan niatnya. Sejenak dia melirik sang Putri.
"Sekali lagi
maafkan saya," pinta sang Putri. "Bukan maksud saya menyinggung
perasaan Kisanak, apalagi menganggap rendah."
Beberapa saat sang Putri terdiam. Kemudian tiba-tiba saja matanya
membasah. Sang Putri menangis.
Lelaki itu duduk di dekat sang Putri. Hatinya diliputi
keingintahuan yang besar tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa nama
Kisanak?" tanya sang Putri.
"Saya... saya
pembuat gelang. Pande gelang. Orang-orang sering memanggil saya dengan sebutan
Ki Pande."
"Baiklah, Ki
Pande. Saya akan bercenta, mudah-mudahan cerita saya akan menghilangkan
penasaran Ki Pande. Selama ini saya tidak pernah menceritakan masalah ini
kepada orang lain karena saya merasa hanya akan sia-sia belaka. Tidak akan ada
seorang pun yang bisa membantu saya," jelas sang Putri dengan mata
berkaca-kaca.
"Tapi mengapa
Tuan Putri mau menceritakannya kepada saya?"
"Saya hanya ingin
menghilangkan penasaran Ki Pande,"
Ki Pande tidak
berkata-kata lagi. Dia hanya menundukkan kepala dengan hati dipenuhi rasa iba.
"Nama saya Putri
Arum ...." sang Putri memulai centanya.
Menurut Putri Arum, dirinya sedang mendapat tekanan dari seorang
pangeran bernama Pangeran Cunihin. Meskipun tampan, Pangeran Cunihin sangatlah
bengis dan kejam. Selain itu, Pangeran Cunihin pun sangat berkuasa dan sakti
mandraguna. Apa pun yang diinginkannya harus terpenuhi. Semua titah tak bisa
berbantah.
"Saya sangat
sedih, Ki, karena dia akan menjadikan saya sebagai istrinya," Putri Arum
mengakhiri ceritanya.
"Saya ikut
bersedih," Ki Pande tak kuasa menahan airmata. "Maafkan saya, karena
tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu Putri."
"Saya mengerti,
Ki. Tidak ada seorang pun yang bisa mengakhiri angkara Pangeran Cunihin,"
ujar Putri Arum lirih. "Tadinya saya mengira wangsit yang saya terima
benar adanya."
"Wangsit?"
tanya Ki Pande.
"Ya. Menurut
wangsit, saya harus menenangkan diri di bukit manggis ini. Kelak katanya akan
ada seorang pangeran yang baik hati, manis budi pekertinya, dan sakti
mandraguna, yang datang menolong saya. Namun penantian ini hampir sia-sia. Tiga
hari lagi Pangeran Cunihin akan datang dan memaksa saya kawin dengannya.
Barangkali ini sudah suratan takdir saya, Ki, sebab setelah sekian lama, dewa
penolong yang hatinya seputih dan semanis buah manggis itu ternyata tak kunjung
tiba," tutur Putri Arum menghiba.
Mendengar hal tersebut, KI Pande mengenyitkan dahi, seolah ada
yang tengah dipikirkannya.
"Oh, tadi Aki
mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membantu saya?"
tanya Putri Arum, teringat kata-kata Ki Pande.
"Benar,"
jawab Ki Pande.
"Itu berarti,
meskipun sedikit ada yang bisa Aki lakukan untuk saya!" seru Putri Arum,
penuh harap.
"Barangkali itu
tidaklah berarti," kata Ki Pande.
"Katakan saja, Ki,"
Putri Arum penasaran.
"Saya hanya ingin
menyumbang saran. Terima saja keinginan Pangeran Cunihin itu."
"Apa Aki sudah
gila? Bagaimana saya mau dipersunting lelaki yang sangat saya benci?"
sergah Putri Arum dengan wajah memerah.
Ki Pande sangat terkejut dengan perubahan itu, tapi dia berusaha
tetap tenang. "Maksud saya, terima saja keinginan dia tapi dengan
syarat."
"Dengan
syarat?" tanya Putri Arum setengah bergumam.
"Ya, dengan
syarat yang sangat susah dipenuhi."
"Hal apa yang
tidak bisa dilakukan Pangeran Cunihin? Dia sangat sakti mandraguna. Laut saja
bisa dikeringkannya!"
"Yakinlah, Tuan
Putri. Tidak semua orang akan jaya selamanya," Ki Pande berusaha
meyakinkan Putri Arum.
"Kalau begitu,
apa syarat yang Aki maksudkan?"
"Pangeran Cunihin
harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu
tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak
lebih dan tiga hari," Ki Pande menjelaskan.
"Bukankah syarat
itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?"
"Tapi tidak semua
orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari
kemampuan orang tersebut akan hilang."
"Setelah
itu"" tanya Putri Arum.
"Serahkan
semuanya kepada saya!"
Mendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui.
Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa
karung yang berisi alat-alat membuat gelang.
Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan
Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, mereka belum juga sampai.
Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas. Orang-orang kampung
membantu Ki Pande rnembawa Putn Arum ke rumah salah seorang penduduk dan
merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang tetua kampung mengatakan
bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui
batu cadas.
Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber mata air batu
cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air
yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum
dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.
Sementara itu, Ki
Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar,
yang bisa dilalui manusia. Menurut Ki Pande, gelang tersebut akan dipasang pada
lingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin.
Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang
menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasan pun mengajukan syarat
kepada Pangeran Cunihin.
"Hahaha, itu
syarat yang sangat gampang, Tuan Putri. Tapi apa maksud dari syarat itu?"
tanya Pangeran Cunihin.
Putri Cadasari terkejut mendapat pertanyaan seperti Itu. Tapi
dia segera menyembunyian keterkejutannya. "Saya hanya ingin agar bulan
madu kita tidak terganggu, Pangeran. Duduk di atas batu sambil menikmati
birunya laut, bukankah itu sangat menyenangkan, Pangeran?" jelas Putri
Cadasari.
"Wah, Tuan Putri
memang sangat romantis!" puji Pangeran Cunihin, pula.
Tak sampai tiga hari dan tanpa halangan yang berarti, Pangeran
Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu
kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri
Cadasari diam-diam mengkuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka
bersembunyi, menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin.
Pangeran Cunihin tampak duduk bersila di hadapan batu keramat.
Dengan konsentrasi penuh, Pangeran Cunihin menempelkan dua telapak tangannya ke
batu keramat. Tiba-tiba tangan Pangeran Cunihin bergetar. Sesaat kemudian batu
keramat itu pun retak dan berjatuhan. Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat
besar tercipta di tengah batu keramat itu.
"Hahaha, aku
berhasil. Tuan Putri akan segera menjadi milikku!" Pangeran Cunihin
mengangkat kedua tangannya seraya berlari mencari Putri Cadasari.
Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang
besar pada batu keramat yang telah berlubang Itu. Setelah itu dia kembali
hendak bersembunyi, tapi didengarnya sebuah bentakan keras.
"Heh tua bangka,
sedang apa kau di sini?!"
Ternyata Pangeran Cunihin telah berada kembali di situ, bersama
Putri Cadasari.
"0, aku tahu.
Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan
kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi
pecundang! Hahaha!" Pangeran Cunihin tertawa puas. "Lihatlah, sang
Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!"
Putri Cadasari terkejut heran mendengar omongan Pangeran
Cunihin, seolah telah mengenal Ki Pande sebelumnya. Namun belum lagi keheranan
itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk
melihat batu keramat yang telah berlubang itu.
"Tuan putri,
lihatlah! Keinginan Tuan Putri telah terwujud. Sebuah batu besar berlubang di
pesisir pantai. Sungguh sebuah tempat yang indah dan romantis," kata
Pangeran Cunihin.
Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan
kegembiraan, w alau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya
menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.
"Apa karena
terlalu gembira saya seakan tidak bisa melihat bahwa batu ini telah
berlubang?" kata Putri Cadasan.
"Hm, baiklah.
Jika Tuan Putri tidak percaya, saya akan melewati batu ini untuk
membuktikannya," jawab Pangeran Cunihin.
Tanpa berpikir panjang, Pangeran Cunihin kemudian berjalan
melewati lubang batu keramat itu. Tapi tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan
tubuhnya sakit luar biasa. Dia berteriak-teriak sekuat tenaga. Suaranya memecah
angkasa. Lalu seluruh kekuatannya pun menghilang. Dia terduduk lemah, tak kuasa
berdiri. Perlahan, Pangeran Cunihin berubah menjadi seorang tua renta tanpa
daya, seolah telah melewati lorong waktu. Sementara itu, KI Pande pun berubah
menjadi seorang pemuda tampan.
"Bagaimana semua
ini bisa terjadi?" Putri Cadasari tidak mengerti menyaksikan
keanehan-keanehan itu.
"Sebenarnya ini
semua akibat perbuatan Pangeran Cunihin. Dulu kami berteman. Tapi setelah
mendapat kesaktian dari guru, dia mencuri seluruh ilmu dan kesaktian saya, lalu
menjadikan saya sebagai seorang yang sudah tua. Saya kemudian mencari kesaktian
untuk mengembalikan keadaan saya. Ternyata hanya satu yang bisa mengembalikan
keadaan itu, yakni Jika Pangeran Cunihin melewati gelang-gelang buatan
saya," terang Ki Pande seraya menatap ke arah Pangeran Cunihin yang
terkulai tak berdaya.
"Kini saya telah kembali
seperti sedia kala. Ini semua karena jasa Tuan Putri. Untuk itu saya
menghaturkan terima kasih," ujar Pangeran Pande Gelang, menggenggam tangan
Putri Cadasari.
"Ah, sayalah yang
seharusnya berterima kasih, Pangeran. Ternyata wangsit yang saya terima itu
memang benar."
Akhirnya, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu.
Beberapa waktu kemudian mereka pun menikah dan hidup berbahagia sampai akhir
hayatnya.
Tempat mengambil batu
keramat tersebut kemudian dikenal dengan kampung Kramatwatu, dan batu besar
berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan
tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya
dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan
pasir berarti bukit. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai
kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang
membuat gelang.
Komentar
Posting Komentar