Cerpen - Moza
MOZA
Perempuan itu melangkah dengan tergesa-gesa
menuju pintu keluar. Lantai yang licin beradu kuat dengan sepatu yang ia
kenakan. Jam ditangannya mulai
menunjukan pukul 10 malam. Restaurant yang
ditempatinya dari tadi itu hampir tutup.
Hawa dingin seketika
menghampirinya. Angin malam membuat jilbab merah marunnya berkibar. Ia berdiri
di tepi jalan menunggu kendaraan umum yang lewat, matanya terasa panas.
Gifar... Malam ini kamu dimana? Kemana kamu Far?
Pikirannya terfokus pada satu orang! Air matanya menggenang di pelupuk mata dan
seketika mengalir deras mengeluarkan puncak-puncak emosinya. Tanpa di sadari,
sedan Mercedes Benz hitam itu melaju cepat kearahnya.
****
Langit
kemerah-merahan menyambutnya di sebrang timur. Bukan alarm jam yang membangunkannya
pagi ini. Tetapi dering handphone yang
diabaikan dari panggilan nomor tak dikenalnya.
“Za, gimana kondisinya? Semalam Gifar yang bawa kamu
pulang. Kamu pingsan Za, kamu sakit?”
Seketika ia terduduk tegap memandangi wanita 50 tahun
itu sudah berada dikamarnya. Bagi Moza, pertanyaan Mamanya belum mampu ia
jawab. Aku pingsan? Aku sakit? Tidak.
Lalu? Gifar? Ya.
Mungkin kecapean Ma, Moza belakangan ini sibuk
mondar-mandir yayasan. Ya gini jadinya” Jawabnya datar. Ia menundukkan kepala,
mencoba mengingat peristiwa semalam. Apanya
yang salah?
“Makanya Za, kamu harus bagi waktu. Gifar bilang,
Jangan sampai di forsir lagi. Ingat! Jaga kesehatan. ” Ucap wanita setengah
baya itu sambil meletakkan segelas susu dan sepiring roti bakar di meja
kamarnya.
Ia
bungkam. Tak disangka Gifar membawanya pulang. Lantas, mengapa Gifar tidak
datang di waktu yang lebih tepat beberapa jam sebelum itu? Dan mengapa ia hanya
mengantarnya pulang dan hanya meninggalkan pesan kepada Mamanya untuk sekedar
mengucapkan “jaga kesehatan-
lekas sembuh”
Apa dia tidak
tau perasaanku? Aku menunggunya berjam-jam hingga terkantuk-kantuk… Raut
kekecewaan itu seakan datang lagi.
Tak banyak aktivitas yang bisa
dilakukannya hari itu. Hampir seharian suntuk Moza berada di kamar. Ia jadi teringat
Gifar.. Lelaki yang dikenalnya 2 tahun silam. Namun jarak yang berjauhan
membuat mereka tak leluasa untuk sekedar bertemu, bahkan Gifar yang bertempat
tinggal di Jakarta tak banyak mengunjungi Moza di Bandung. Ah masa
dia belum menghubungiku? Berulang kali ia melihat layar handphonenya, tapi
ia tak menemukan apa-apa disana…
****
“Far,
kamu yakin bulan depan?” Perempuan mungil itu terlihat melontarkan pertanyaan
dengan gugup. Kedua tangannya yang mulai berkeringat berusaha ditutupi jilbab
panjangnya yang menjuntai kebawah.
“Aku yakin Za. Kamu itu pilihan terakhir. Mungkin
Allah meridhai kita untuk bersama-sama. Kamu tau Za? Aku beruntung melamar perempuan seperti kamu. Kamu cantik, kamu
pintar, kamu shalehah, kamu sopan & santun, ramah, lembut.. Dan kamu itu
idaman”
Air matanya hampir menetes. Ia tak percaya Gifar yang
melontarkan kata-kata itu. Kenyataannya, hanya Gifar kini yang duduk
menemaninya di taman belakang rumah.
“Semoga Allah mempermudah segala urusan ya Far,
semoga semuanya berjalan dengan lancar”
“Kamu sudah mantap kan, Za?
“InsyaAllah Far, ada kemauan ada jalan…”
Tak banyak percakapan yang dimulai hari itu. Hanya
sedikit lontaran kata-kata yang mebuat Moza merasa siap menuju dunia barunya.
Di sela-sela keheningan percakapan itu Ia mencoba memasang rangkaian peristiwa
puzzle semalam. Gifar melamarnya.. Ketegasannya.. Kata-katanya.. Sanjungannya..
Membuat hatinya luluh mencair. Baginya, peristiwa 3 bulan lalu saat Gifar tidak
menepati janji pertemuan untuk makan malam, sudah ia lupakan.
Kini
ia tinggal menghitung hari menjelang resepsi pernikahannya dengan Gifar. Segala
sesuatunya telah di persiapkan dengan matang. Walaupun terbilang cukup singkat,
namun Gifar mengupayakan semuanya agar tepat. Sesekali mamanya memberi nasehat,
bagaimana caranya menjadi istri yang baik, istri yang shalelah.
“Ingat Za! Surga ada pada ridha suamimu juga. Lakukan
segalanya dengan baik selagi itu bukan hal-hal yang diharamkan agama”
Moza mencerna petuah-petuah dengan baik. Ia hanya
menganggukkan kepala setiap kali menerima nasehat Mamanya.
****
Fade in..
Flashback…
Hari-hari setelah pernikahan terasa begitu indah.
Moza resmi menjadi Nyonya Zafazzidan. Ya! Gifar Zafazzidan, kini menjadi
suaminya. Gifar memperlakukannya dengan sangat istimewa. Moza yang dibawanya ke
Jakarta, tidak merasa kesepian jauh dari keluarganya. Bagi Moza, Gifar mirip
dengan Papanya. Dari mulai cara perlakuan terhadap dirinya hingga
kekonyolannya. Dan bagi Moza, terkadang Gifar adalah duplikat Mamanya dalam hal
penyampaian saran, kritik dan nasehat. Bahkan, Gifar seperti Keyna adiknya. Ia
terkadang manja dan menggemaskan.
Gifar
sangat perhatian. Ketika ia hamil, ia hampir tidak banyak melakukan pekerjaan
rumah. Gifar rela kelelahan demi Moza. Ia memang sengaja tidak
memperbolehkannya melakukan itu semua demi kebaikan Moza. Dan Moza memang
sangat istimewa dimatanya. Selama hamil, ia tidak pernah terlihat manja dan
banyak tingkah. Ia tetap mau datang ke pengajian dan rela berjalan dari
rumahnya untuk sampai ke masjid di ujung.
Semua
kebahagiaan itu terasa lengkap setelah kehadiran Alfan. Bagi keduanya, Alfan
merupakan buah hati dambaan mereka. Alfan sangat tampan, ia mirip dengan
ayahnya. Kini menjadi seorang ibu rumah tangga telah dirasakan olehnya. Moza
sepenuhnya mengurus Alfan. Gifar tidak mau mengambil asisten untuk mengurus
anak-anaknya. Ya. Ia percaya Moza bisa lebih baik mendidik darah dagingnya.
Gifar
memberikan segalanya untuk Moza. Namun, Moza tidak mau terlena akan semua itu.
Ia tetap sederhana dan low profile. Menurutnya, menjadi istri seorang pengusaha
tidaklah harus menjadi kaum sosialita. Moza tidak pernah tertarik untuk
mengikuti mode. Ia tetaplah Moza yang bergamis dan berjilbab.
Namun
semua itu hanyalah segelintir kebahagiaan baginya. Itu hanya 10% dari 100%
kenyataan. Itu dulu… Gifar, berpaling
dari semuanya.. Perlahan-lahan Moza menutup tirai masa lalunya. Tangannya
menggenggam erat cincin perkawinan yang melingkar manis di jari telunjuk,
genangan air mata membasahi pipinya. Semua itu memang indah, tapi itu adalah
dahulu.. Awal-awal pernikahannya sebelum Gifar seperti sekarang.
“Aku sudah menemukan perempuan lain yang menurutku
tepat untuk menjadi istriku. Dia cantik, dia pintar berdandan. Ini semua
salahmu Za. Kenapa kamu tidak pernah mau melepas jilbabmu dan berdandan, saat
aku mengajakmu ke pertemuan dengan teman-teman kantor? Aku malu Za. Kamu tidak
modis. Kamu tidak bisa berdandan cantik seperti perempuan-perempuan itu.
Lama-lama aku bosan. Aku juga ingin istriku berpenampilan casual & elegant
seperti yang lainnya. Tapi kenapa kamu tidak pernah mau? Kenapa kamu tidak
memakai baju-baju serba mahal yang ku belikan?”
Untaian kata itu bagaikan petir dihatinya. Gifar yang
dulu mencintainya karna keshalehannya kini menuntutnya membuka aurat di depan
umum. Ia sungguh tidak sanggup. Dan Ia ditinggalkan Gifar begitu saja sejak 3
tahun lalu. Tidak ada kata perceraian yang dilontarkan. Namun Gifar tidak
pernah lagi kembali kerumah. Mungkin, Ia telah menikah dengan rekan kerjanya
yang pernah ia sebut namanya. Haruskah
aku melepas gamis serta jilbabku dan menggantinya dengan rok mini serta busana
ketat agar kamu kembali? Tidak Far, aku tidak bisa..
Alfan mendekatinya dan mengusap
air matanya. Bocah lelaki itu sungguh dirasa menenangkan hati. Wajahnya selalu
mengingatkan kepada Gifar. Terkadang ia rindu akan yayasan tempat ia bekerja
dulu. Ingin rasanya kembali kesana dan memulai kesibukan untuk melupakan ini
semua. Alfan yang kini berusia 6 tahun sudah mulai mengerti dan bertanya-tanya
dimana ayahnya.
“Bunda, ayah dimana? Ko tidak pernah pulang?”
Ia selalu mengelus dada jika Alfan menyakan hal ini. Ia bingung harus
menjawab bagaimana.
“Ayah masih tersesat nak, kita doakan saja semoga Allah memberinya
keselamatan dan memberinya jalan pulang kembali kesini….”
Moza menatap pintu rumah dengan penuh harap. Berharap suatu hari nanti
Gifar akan kembali pulang kerumah itu.
Kini, hari-hari
dijalaninya sendiri. Ia membesarkan Alfan tanpa Gifar. Ya, Moza membuktikan
bahwa ia adalah wanita yang sangat kuat. Ya
Moza.
Karya : Sasa Farhatu Dini
Komentar
Posting Komentar