Karya
: Sasa Farhatu Dini
Pelangi di Kota Hujan
Aku membelah jalanan dibawah langit
merah. Hembusan angin sesekali menerpa jambul kecilku. Beruntung, motor tua
warisan bapak pengertian pagi ini. Sejuknya udara di sekitar Gunung Putri membuatku
semakin betah berlama-lama di kota ini. Aku memang tunarungu. Aku juga
mengalami masalah untuk melafalkan kata-kata. Aku sedikit sulit berbicara. Tapi
dengan segala keterbatasanku, aku mampu membuktikan bahwa mahluk seperti ini
pun masih mampu bertahan hidup di kerasnya kehidupan bangsa-bangsa kapitalis.
Aku menjadi seorang seniman sejak 5
tahun lalu. Aku cinta melukis. Entah darimana bakatku ini muncul, yang jelas
bapak dan ibuku sama sekali bukan orang seni. Rahid adalah orang yang tak bisa
hanya kusebut sebagai sahabat, tapi ia layaknya bagian dari hidupku. Ia seperti
saudaraku, dan kakakku. Ia yang membantuku menjual lukisan-lukisan keliling
kampung dengan senang hati. Lukisanku tak sebesar lukisan para seniman hebat
negeri ini. Lukisanku tak tertabur di kanvas mahal. Lukisanku sederhana namun
selalu ada makna di setiap karya indah ini.
“Nu,
hari ini kita ke pasar Cibinong. Dengar-dengar ada festival seni tari yang
digelar dekat sana. Siapa tau lukisanmu laku” Di seruput lagi teh pahit yang
tinggal setengah gelas itu. Rahid tau, aku tak bisa mendengar jelas ucapannya.
Namun dengan bantuan gestur tubuhnya aku mengerti, tepatnya belajar mengerti.
Balasanku hanya mengangguk pasrah.
Hari dimulai ketika mentari begitu
terik di atas tanah Bogor. Lalu lalang keramaian festival ini begitu terasa.
Aku dan Rahid menuju sebuah pohon besar di ujung jalan. Sambil menikmati panas
terik yang jarang datang, rasanya menyenangkan berada di tempat festival ini.
Tak ku sadari seorang perempuan
berkacamata mendekati kami berdua. Rahid langsung berdiri, mengerti bahwa
perempuan itu hendak melihat-lihat lukisanku. Rahid berbincang-bincang dengan
perempuan ini cukup lama, sesekali aku melirik.
Satu lukisanku akan dibawa pulang
mahluk istimewa. Jabat tangan Rahid dengannya menandakan sepakat. Aku tau
mereka saling memperkenalkan diri. Sayangnya, aku tidak bisa mendengar siapa
nama perempuan yang begitu menawan ini.
Seminggu berlalu dan aku mulai
melukis lagi. Perempuan berkacamata itu menjadi inspirasiku kali ini. Tak ku
lukis sempurna gambar wajahnya, hanya mengambil spot samping muka yang hampir
tertutupi oleh mahkotanya. Aku takut Rahid tahu, siapa yang sedang ku jadikan
objek. Maka dari itu tak pernah ku perjelas sketsa wajahnya.
Tepat 10 hari lukisanku berhasil
selesai. Temanya tentu saja perempuan dan segala keindahannya. Aku bangga
dengan lukisanku kali ini. Akhirnya untuk pertama kali aku sukses melukis wajah
bidadari.
“Hid..
Te..temani aku ke.. keli…” Namun Rahid dua kali lebih cepat mengangguk sebelum
kuselesaikan omonganku. Ia tentu mengerti apa yang ku maksud. Dan ternyata
Rahid mengajakku berjualan disekitar toko-toko yang berjejer di jalanan sekitar
Cibinong. Ketika melewati salah satu toko kue, aku melihatnya lagi. Perempuan
berkacamata yang tempo hari membeli lukisanku. Ia seperti melihat kami dan
perlahan menghampiri. Kami bersalaman, dan nampaknya Rahid mulai bercerita
tentang lukisan baruku. Ia seperti tertarik, namun ia tak pernah mengenali
siapa sesungguhnya wajah dilukisan sederhana itu. Rahid menyuruhku membungkus
lukisan. Perempuan ini kelihatan begitu antusias dengan lukisan yang akan ia
beli. Matanya berbinar dan bulu mata lentik itu berkedip perlahan. Ia seperti
pelangi dengan sejuta warna. Begitu indah dan menebar pesona. Ialah pelangi
dengan lengkungan manis senyumnya. Tuhan, jenis pelangi apakah itu? Andai aku
bisa mendengar siapa namanya, andai aku bisa bercerita apa-apa yang hanya bisa
terhantar dari lukisan-lukisan ini. Sayangnya, begitu tinggi menyentuh pelangi
seperti dia. Dan aku yang hanya setitik debu di kota hujan ini, hanya bisa
berharap sang pelangi melenturkan lengkungannya membuat setengah lingkaran
dengan sempurna hingga ujung sang pelangi menyentuh hitamnya permukaan debu.
Lalu biasan cahaya dan kumpulan materi kotor itu bersatu diatas bumi.
Aku bergegas menghentikan impian
konyol itu. Kusiapkan pembungkus lukisan ini. Aku merasa ia perlu mengenal ku,
walau sekedar nama. Dengan secepat kilat kuambil spidol di kantong celana dan
ku bubuhkan sebuah nama dibelakang lukisan itu “IBNU”.
Komentar
Posting Komentar